Setelah mendapatkan dukungan pemerintah Provinsi Gorontalo, bersama Sekertariat SDGs Provinsi Gorontalo pada tanggal 16 Oktober 2024, SDGs Center UNG melakukan pertemuan maraton dengan Bappeda Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo.
Bappeda Kota Gorontalo mengadakan pertemuan penting untuk memaparkan usulan Multi-Stakeholder Partnership (MSP) Fase II. Pertemuan ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk perwakilan dari Bappeda, Sekertariat SDGs Provinsi, dan SDGs Centre UNG, dengan tujuan utama untuk memaparkan usulan program MSP fase II dengan tema utama pemberdayaan ekonomi kelompok marginal. Kabid Litbang yang mewakili Kepala Bappeda Kota Gorontalo menegaskan siap mendukung kegiatan ini. “Dengan prinsip pemerataan dan keadlian dengan memperhatikan hak-hak kelompok rentan, menjadi penting dalam kemajuan kota. Semoga program ini dapat meningkatkan rasa keadilan dan bermanfaat bagi masyarakat rentan khususnya kelompok disabilitas” sesuai prinsip SDGs “no one left behind”.
Di hari yang sama, rancangan program kerja MSP Kabupaten Gorontalo dibahas bersama Bappeda Kabupaten, dengan tujuan yang sama untuk memaparkan usulan program MSP fase II dengan tema utama penurunan risiko stunting yang ada di Kabupaten Gorontalo. Cokro Katili, Kaban Bappeda Kabupaten Gorontalo, menyambut positif dan mendukung program tersebut menekankan bahwa isu stunting merupakan prioritas di Kabupaten Gorontalo. “Meskipun sebelumnya daerah ini berhasil menurunkan prevalensi stunting, dalam tiga tahun terakhir terjadi peningkatan yang memerlukan perhatian serius”.
Kepala Pusat Studi SDGs Center UNG, Raghel Yunginger menambahkan, “Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal yang signifikan dalam memitigasi lahirnya anak-anak yang stunting sehingga Indonesia memiliki generasi emas di tahun 2045 sebagai generasi penerus estafet pembangunan berkelanjutan di negara ini. Oleh karena itu rancangan program ini membutuhkan pemahaman bersama dan peran pemangku kepentingan dari berbagai instansi terkait sebagai semangat bersama untuk bergotong royong mencapai target program MSP yang lebih efektif,” lanjutnya menerangkan, “Untuk selanjutnya kami akan membahas lebih teknis terkait aktivitas dan penentuan lokus percontohan kegiatan yang akan menjadi target program bersama”.
Sebelumnya, Indonesia telah dua kali menyampaikan VNR, pertama kali di 2017 dan kedua kalinya di 2019.