KOMPARASI.ID – Upaya menekan angka stunting di Kabupaten Gorontalo kembali mendapat perhatian serius.
Pada 11-12 Februari 2025, SDGs Center Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bersama Bappeda Provinsi Gorontalo dan Pemerintah Kabupaten Gorontalo turun langsung ke lapangan.
Mereka melakukan profiling terhadap masyarakat berisiko stunting di dua desa, Haya-haya dan Hutabohu, yang menjadi pilot project program intervensi stunting.
Kegiatan ini melibatkan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dan bertujuan memetakan kondisi sosial, ekonomi, pola konsumsi gizi, serta akses masyarakat terhadap fasilitas sanitasi.
Data yang diperoleh akan menjadi dasar penyusunan kebijakan dan program yang lebih efektif dalam menangani stunting.
“Selama dua hari kami telah menyelesaikan profiling terhadap ibu hamil, balita, hingga remaja putri yang rentan mengalami stunting,” ujar Raghel, Kepala Pusat Studi SDGs Center UNG.
Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar pendataan, tetapi langkah konkret untuk memahami persoalan di tingkat akar rumput.
“Sebelumnya, kami telah menggelar serangkaian diskusi dengan pemerintah provinsi, kabupaten, hingga perangkat desa untuk menyusun strategi intervensi. Dengan data yang lebih akurat, program yang dijalankan bisa lebih tepat sasaran,” tambahnya.
Langkah ini menjadi bagian dari gerakan besar dalam menekan angka stunting di Gorontalo. Melalui pendekatan berbasis data dan kolaborasi lintas sektor, diharapkan program ini tak hanya sebatas wacana, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Sebelumnya, Indonesia telah dua kali menyampaikan VNR, pertama kali di 2017 dan kedua kalinya di 2019.