Gorontalo - SDGs Center Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bersama Dinas Lingkungan Hidup Kota Gorontalo, Bappeda Kota Gorontalo, dan Bappeda Provinsi Gorontalo melakukan peninjauan lapangan pada 7–8 Januari 2026 sebagai bagian dari upaya melengkapi kajian proses bisnis kebijakan pengelolaan sampah di Kota Gorontalo. Kegiatan ini diarahkan untuk memperoleh gambaran faktual di berbagai simpul layanan persampahan—mulai dari hulu (rumah tangga), titik antara (TPS3R), hingga hilir (TPA)—serta memetakan kesiapan pengelolaan sampah organik melalui kompos dan budidaya magot.
Peninjauan hari pertama, 7 Januari 2026, mencakup sejumlah lokasi kunci: TPA Talumelito, Balai Benih Ikan (BBI), NGO Tangidaa Group, TPS3R Bulotadaa, serta pengelolaan sampah rumah tangga di Kelurahan Moodu. Di setiap titik, tim SDGs Center UNG melakukan observasi kondisi lapangan, menelusuri alur operasional, dan mengidentifikasi kebutuhan sarana-prasarana maupun aspek tata kelola yang berpengaruh terhadap efektivitas layanan.
Di TPA Talumelito, peninjauan difokuskan untuk melihat secara langsung kondisi lokasi pembuangan akhir sampah Kota Gorontalo, termasuk realitas operasional dan tantangan yang muncul di titik hilir sistem persampahan. Sementara itu, kunjungan ke Balai Benih Ikan (BBI) diarahkan untuk menilai kesiapan pengelolaan sampah organik, khususnya potensi pemanfaatan organik melalui kompos dan budidaya magot sebagai bagian dari strategi pengurangan sampah dan potensi sirkular ekonomi dari limbah organik.
Pada titik pengelolaan berbasis masyarakat dan lembaga, tim mengunjungi NGO Tangidaa Group dan TPS3R Bulotadaa untuk melihat kondisi sarana pengelolaan sampah, cara kerja layanan, serta peluang penguatan sistem—baik dari sisi fasilitas, kapasitas pengelola, maupun mekanisme dukungan dan kemitraan. Peninjauan juga dilakukan pada pengelolaan sampah rumah tangga di Moodu untuk memotret praktik pengelolaan mandiri di tingkat keluarga yang dikembangkan masyarakat bersama Kelompok Studi Lingkungan Archipelago. Praktik ini dinilai penting karena menggambarkan bagaimana perubahan perilaku dan penguatan kelembagaan lokal dapat mendorong pengurangan sampah dari sumbernya.
Kegiatan berlanjut pada 8 Januari 2026 dengan kunjungan ke Rumah Kompos dan TPS3R Leato Selatan. Di Rumah Kompos, fokus peninjauan mengarah pada kesiapan infrastruktur dan alur pengolahan sampah organik—termasuk pengomposan dan kemungkinan integrasi budidaya magot—sebagai penguat strategi pengurangan beban sampah yang masuk ke TPA. Sementara di TPS3R Leato Selatan, tim kembali menilai kondisi sarana, kesiapan operasional, serta kebutuhan peningkatan layanan agar pengolahan pada tingkat kawasan berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, rangkaian peninjauan ini ditujukan untuk memperkuat basis data lapangan dan pemetaan proses bisnis pengelolaan sampah Kota Gorontalo, dengan menempatkan setiap lokasi sebagai bagian dari satu rantai layanan yang saling terhubung. Hasil peninjauan diharapkan menjadi masukan teknis bagi penyusunan rekomendasi kebijakan dan perbaikan tata kelola, sekaligus memperjelas titik-titik prioritas—mulai dari penguatan pengurangan sampah dari sumber, pengolahan organik, peningkatan fasilitas TPS3R, hingga perbaikan aspek hilir di TPA.
Sebelumnya, Indonesia telah dua kali menyampaikan VNR, pertama kali di 2017 dan kedua kalinya di 2019.